Anggota Dewan Yang Terhormat

December 7th, 2006 by glencp

Pasti semua sudah pada tau tentang peristiwa beredarnya gambar tidak seronok yang pelakunya diindentifikasi adalah seorang anggota DPR RI berinisial YZ dengan salah satu artis ibu kota berinisial ME. Saya tidak dalam kapasitas membahas ’skandal’ itu karena merasa bahwa itu adalah hal ‘biasa’ dalam dunia politik. Saya pernah belajar tentang teori kebutuhan ala Maslow. Ketika kebutuhan manusia semakin tercukupi, keinginan lainnya akan meningkat. Jika anggota dewan sudah ditanggung kredit rumah, mobil, biaya kesehatan, sosial, dan pendidikan keluarga, berarti semua sudah tercukupi plus gaji tinggi.

Kalau membaca pemberitaan di surat kabar beberapa minggu terakhir ini, sebelum kejadian ’skandal’ antara YZ dan ME, saya dikejutkan dengan informasi bahwa PP no. 37/2006 yang mengatur tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah disahkan oleh Menteri Dalam negeri dan mulai berlaku pada Januari 2007. Sungguh luar biasa kenaikkan gaji anggota dewan yang terhormat yang diberlakukan sejak 1 Januari 2007 nanti. Betapa tidak, kenaikkannya 100%. Amat fantastis. Hal itu sangat kontras dengan nasib kaum buruh dan pegawai negeri sipil umumnya. Untuk bisa menaikkan upah 10% saja, kaum buruh harus gegeran (ribut) dengan eksekutif, pengusaha dan DPR/DPRD. Begitu pula dengan pegawai negeri sipil, kenaikkan gajinya rata-rata 10-15% per tahun.

Buat yang pengen tau isi PP No. 37/2006, gaji ketua dan wakil ketua DPRD mencapai  Rp. 30 juta. Terdiri atas uang representasi Rp. 3 juta, tunjangan komunikasi Rp. 9  juta, dan dana operasional Rp. 18 juta. Sementara gaji anggota DPRD mencapai Rp. 14 juta yang terdiri dari uang representasi Rp. 2.250.000, tunjangan komunikasi Rp. 6.750.000 serta tunjangan perumahan Rp. 5 juta.

Gaji tersebut diatas masih ditambah tunjangan beras 14% dari uang representasi, tunjangan anggota 3% dari uang transportasi, tunjangan keluarga 12% dari dana representasi, tunjangan kepanitiaan kegiatan DPRD, serta biaya perjalanan dinas.

Melihat realita di atas, saya tidak ingin menyamakan gaji anggota dewan dengan buruh atau pegawai negeri lainnya karena memang berbeda. Kita (rakyat Indonesia) perlu berbangga hati bisa menaikkan gaji anggota dewan yang terhormat sampai 100%. Kenaikkan gaji DPRD yang dituangkan dalam PP No. 37/2006 adalah bertujuan mulia (menurut ‘mereka’), yakni menaikkan produktivitas kerja dewan dan mengurangi kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan (korupsi).

Pertanyaannya, apakah benar ketika gaji DPRD tinggi, kinerjanya akan semakin produktif ? Benarkah ketika gaji tinggi, kecenderungan korupsi menurun ? 2 pertanyaan tersebut belum bisa dijawab pasti.

Di sisi lain, ada fakta bahwa ketika gaji anggota dewan cukup baik bahkan cenderung berlebih, apakah produktivitas kerjanya sudah terlihat ? menurut saya, belum sama sekali !! Masih terlalu banyak tugas dewan yang belum selesai, masih ribuan RUU yang belum diselesaikan.

Perlu diingat, kenaikkan gaji tidak serta merta memotong budaya korupsi. Dalam penyelesaian RUU yang semestinya bersih dari amplop, ternyata masih ada kabar ‘mereka’ (oknum) yang mau menerima amplop. Itu adalah contoh kecil. Pekerjaan yang semestinya dikerjakan bersih dari korupsi karena merupakan tugas pokok dewan saja masih bisa dimanfaatkan untuk memperoleh tambahan.

Jadi, berkurang atau tidaknya perilaku korup para anggota dewan terletak pada ada atau tidaknya kotrol dari masyarakat serta kesigapan aparat penegak hukum, bukan besar atau tingginya gaji yang diperoleh.

Kembali pada ‘kasus’ YZ dan ME, saya menilai bahwa selain sudah terpenuhinya semua kebutuhan secara materi, ada hal lain yang belum terpenuhi. Apakah itu ??

Jelasnya adalah hal-hal yang bersifat hobi akan menuntut dipenuhi juga. Karena ini, menjadi logis kalau seorang anggota dewan yang terhormat tersebut bermesra-mesraan dengan artis ibu kota. Untuk apa uang yang diperoleh, toh semua kebutuhan dasar hidupnya sudah tercukupi. Apa yang terungkap itu baru fenomena gunung es saja. Masih banyak yang kita sendiri bakalan termengo-mengo kalau mengetahui kelakuan ‘oknum’ anggota dewan yang terhormat itu.

Sebetulnya, yng belum terungkap cukup banyak. Kita ga tau pasti berapa di antara mereka yang punya istri simpanan, suka menghambur-hamburkan uang di kelab-kelab malam, belanja keluar negeri dan lain-lain. Betapa senang melihat kenyataan tersebut ya…pantaslah kiranya kita berkesimpulan betapa senangnya menjadi anggota dewan dengan gaji yang begitu fantastis. Benar-benar kehidupannya kan menjadi layak (BENARKAH ??)

Namun, kalo wakil rakyat tersebut kritis dan peduli terhadap nasib rakyat, semestinya mereka menolak kenaikkan gaji sebesar itu. Memang benar lah, kalo jadi anggota dewan itu banyak pengeluarannya, apalagi kalo ada konstituen yang datang meminta ‘jatah’ sambil mengingatkan bahwa mereka ikut menentukan jumlah suara saat pemilu kemarin sehingga ia dapat duduk menjadi anggota dewan yang terhormat.

Memang benar juga, gaji DPRD perlu naik dan perlu lebih besar daripada yang sekarang agar ada peningkatan kesejahteraan. Tapi janganlah terlalu spektakuler.

Surabaya, 8 Desember 2006

curahan hati anak seorang anggota dewan yang benar-benar menghormati ayahnya karena menjalaninya dengan hati nurani, takut akan Tuhan serta percaya bahwa jabatan itu hanyalah sebuah titipan semata. I proud of you Dad !!!

Lagu Favorite

October 31st, 2006 by glencp

Aku Sahabatmu Yang Mencintaimu

By. Cindy

Salahkah diriku ini

Pabila resah ini..ada di hatiku

Kau memang sahabatku

Kau memang teman baikku

Dan aku…jatuh cinta padamu

Sakit dihatiku bila aku melihat

Kau tersenyum karna cintamu sedang terluka

Dia menyakitimu dan aku sakit karnanya

Kau ingin cinta sejati

Kau ingin ketulusan

Hati…

Biarkan

Kunyatakan

Aku mencintaimu..

Biarkan

Aku datang

Di dalam hatimu

Biarkan

Kuakhiri

Rasa sakit di hatimu

Karna aku sahabatmu

Aku yang dengan tulus mencintaimu

Salahkah aku

GCP 31102006

ps.

Hidup penuh dengan pilihan, dan cinta pun akan memilih kepada siapa dirinya berlabuh…

Sinetron Indonesia menjadi Agama Baru

October 19th, 2006 by glencp

SELEBRITI JUGA MANUSIA, Pantaskah Masuk MURI?

Indonesia adalah negara SINETRON!! Percaya atau tidak??

Saya mencoba tanya sama temen-temen saya yang kerja di beberapa televisi swasta ataupun lokal di Indonesia, dan jawaban mereka adalah..’tumben anak news tertarik sama sinetron..’ hahaha, siyal padahal maksud saya adalah untuk bertanya sampai seberapa jauh kontribusi pemasukkan iklan dari tayangan sinetron yang ada di perusahaan televisi mereka.

Kalo bicara soal sinetron, ada 1 sinetron yang menarik perhatian saya yaitu sinetron tentang kisah kehidupan selebritis yang memang selalu menarik untuk disimak (makanya tayangan gosip atau infotainment laku keras disini). Kisah tentang pernikahan, perceraian dan perselingkuhan yang kian merebak, selalu menjadi head line pemberitaan tayangan-tayangan infotainment. Nah, kisah kehidupan nyata para selebritis juga ditayangkan dalam bentuk sinetron berjudul Selebriti Juga Manusia.

Yang menarik, pemeran utama kisah kehidupan selebriti yang diangkat ke layar kaca ini, diperankan langsung oleh selebriti itu sendiri. Seperti kisah kehidupan Cut Memey, Ria Irawan, Sandy Harun, Andhara Early, Anissa Bahar dan lainnya. Tentu saja dengan harapan, agar kisah kehidupan mereka bisa digambarkan semirip mungkin dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Sinetron Selebriti Juga Manusia yang diperankan oleh Cut Memey misalnya, menggambarkan secara transparan bagaimana perasaannya menjadi wanita ’simpanan’. Pernikahan yang tak diketahui publik, membuat dirinya merasa rendah diri dan sulit berinteraksi dengan keluarga. Tak hanya itu, tanpa malu-malu, Cut Memey mengisahkan jika selama 4 tahun perkawinannya, ia seringkali dianiaya sang suami.

jika benar apa yang dikisahkan Cut Memey, sungguh suatu pengorbanan luar biasa dalam kehidupannya sebagai seorang publik figur. Sebab, mungkin saja, jika ia tak berselisih paham dengan ’suaminya’, kisah pilu ini dipendamnya sendiri. Mungkin saja tak diangkat ke layar kaca, apalagi dijadikan kisah sinetron. Sehingga bisa saja, banyak yang beranggapan, Cut Memey masih melajang dan tengah asyik menikmati kesendiriannya.

Tak hanya Cut Memey yang berani ‘berbagi’ kisah kehidupan pribadinya kepada publik, tetapi juga Ria Irawan. Aktris senior yang beberapa kali meraih Piala Citra ini pun tanpa ragu-ragu mengisahkan kehidupannya yang apahit selama menikah dengan seorang pembalap. Akting Ria, memang tidak perlu diragukan lagi. Menjiwai peran yang bukan dirinya saja, ia bisa melakukannya dengan baik, apalagi jika peran yang dilakukannya memang terjadi dalam kehidupannya. Tapi lagi-lagi, jika Ria tak ‘buka kisah’, banyak orang yang menilai kalo perceraiannya dengan sang suami, hanya karena perbedaan usia yang  cukup jauh. Padahal, Ria yang selalu bersikap tegar di depan publik dan penuh ceria, ternyata juga sering dianiaya sang suami hingga memutuskan untuk bercerai.

Boleh jadi kisah-kisah yang mengharubiru perasaan jutaan pemirsa di Indonesia, termasuk di rumah saya juga, inilah yang membuat Museum Rekor Indonesia (MURI) menyatakan, sinetron SJM layak untuk mendapatkan penghargaan karena ide ceritanya yang orisinal (AHA, DJ Nanda, sekarang kamu tau kenapa ide itu mahal harganya ya…) dan diperankan langsung oleh selebritnya.

Mungkin ada yang menganggap penilaian dari MURI itu benar, tapi apakah lantas sinetron SJM pantas mendapatkan  dan tercatat dalam MURI? Bukankah kisah-kisah itu lebih banyak mengisahkan tentang kepiluan seorang wanita yang teraniaya dalam kehidupannya? Baru tau saya kalo kriteria *kepiluan* masuk dalam katagori penilaian MURI..ada ada aja rek rek…

Kalo kita perhatikan dan simak dengan seksama, rangkaian kisah kehidupan para seleb yang ditayangkan di sinetron ini tidak ada istimewanya. Kenapa ? Sudah banyak sinetron-sinetron yang cerita kurang lebih sama (atau memang sama) dengan sinetron SJM. Bedanya, hanya ada pada pemeran, tapi menurut MURI, disitulah idenya dinilai orisinal.

juga, kalo diliat lagi dengan kacamata yang lebih realistis, apa yang diungkapkan para selebriti ini adalah aib dalam kehidupan mereka, dan ini tentunya sudah bukanlah hal yang biasa terjadi. Pada umumnya sih, tak banyak orang yang ingin mengumbar aibnya jika tak berkaitan dengan uang (AHA…). Jika kita bicara tentang dunia selebriti, apa sih yang tak bisa mendatangkan uang, apalagi, Ria Irawan mengaku jika ia mendapat honor yang lumayan dalam sinetron ini.

Tapi, ada tapinya, tentu saja tak semua kisah yang dibeberkan dalam sinetron ini sepenuhnya mendekati kebenaran. Buktinya, ’suami’ Cut Mememy kabarnya akan melayangkan somasi  kepada stasiun teve yang menayangkan sinetron ini. Menurut dia, apa yang dikisahkan Cut Memey tak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

lalu, jika sinetron ini terus ditayangkan, artinya berapa banyak lagi selebriti kitayang ingin menceritakan aibnya? Dan, pantaskah MURI memberi plakat? Atau mungkin saja masih, karena kita sudah ga ada nurani…

20102006

GCP

ps.

terima kasih untuk UT, ide dan ceritamu memang ‘mahal’ harganya…

Quo Vadis Pelayanan Publik

October 18th, 2006 by glencp

Saya mencoba masuk ke ranah politik.

Dalam perjalanan pulang ke Surabaya beberapa hari yang lalu di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta, saya mendapat teman bicara yang mengajak saya untuk kembali berpikir tentang arti kata ‘pelayanan publik’. Bapak yang satu ini memiliki wawasan yang cukup luas. Rupanya beliau baru saja mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan dari salah satu instansi pemerintah di ibu kota. Pak Santo, demikian saya mengenalnya, bilang kalo dia mencoba mengurus kenaikkan pangkatnya yang tertunda. Saya tidak bertanya apa sebabnya, tetapi pada pokok ceritanya Pak Santo ini ditunda kepangkatan pegawai negeri-nya. Dia mengeluh tentang pelayanan yang seharusnya dia terima bukannya cepat dan tepat, tetapi malah kepergiannya ke Jakarta justru tidak menghasilkan apa-apa. Sebagai pegawai negeri Pak Santo sudah mengabdi kepada negara ini selama 30 tahun dan sebentar lagi akan pensiun. Bukannya dihargai pengabdiannya, justru beliau di ping-pong selama 4 jam berada di kantor instansi pemerintahan tersebut. Yang lebih parah katanya, semua dokumen-dokumen, ijazah, dan tanda penghargaan yang dia bawa tidak berguna sama sekali. Dan yang lebih menyakitkan, kepala bagian yang mengurus tetek bengek urusan kepangkatan tersebut adalah yunior alias ‘adik kelas’ beliau. Bukannya dipermudah, tetapi beliau malah disuruh menunggu 4 jam dengan alasan ada tamu, padahal menurutnya kepala bagian itu ada di dalam ruangan dan tidak ada tamu di dalamnya. Dari cerita di atas, saya mengambil kesimpulan sederhana, itu baru instansi pemerintahan, bagaimana kalo dengan instansi swasta ?

Ini pengalaman pribadi.

Beberapa waktu yang lalu saya mengantarkan ibu saya untuk pemeriksaan MRI atau citiscan di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya. Karena ada keluhan dengan sakit kepalanya, ibu bilang langsung saja mendaftar di rumah sakit A karena menurut teman ibu saya, rumah sakit itu terkenal bagus (entah dimana bagusnya saya tidak tahu). Singkat cerita, setelah menunggu dan di ping-pong oleh pelayanan suster dan dokter muda (saya bilang dokter muda tetapi sebenarnya lebih mirip mantri) selama 1 jam tanpa ada penanganan administrasi, saya mulai ‘naik pitam’ (kalo apapun itu yang menyangkut orang tua kita, saya yakin semuanya pasti akan berbuat yang sama dengan saya). Dengan emosi saya bilang di depan front office bahwa pelayanan publik yang mereka berikan sungguh-sungguh tidak profesional. Saya juga sempat mengancam untuk ‘menampol’ satpam (modelnya sudah kaya bodiguard saja, badan mengkekel sana sini dengan tampang menyeramkan) yang mencoba ‘mengusir’ saya karena menimbulkan keributan di meja penerima tamu (saya jadi bertanya, kalo satpamnya saja sudah tidak public face bagaimana dengan pelayanannya ya). Karena tidak ada solusi yang diberikan akhirnya saya dan ibu saya meninggalkan rumah sakit swasta yang megah itu. Sungguh saya kecewa berat dengan pelayanan yang diberikan, tidak profesional blas. Bagaimana kalo yang datang dalam keadaan sekarat ? Saya benar-benar tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Saya yakin-seyakinnya, pasti alasan miskomunikasi yang akan diberikan oleh mereka. Saya mencoba pindah ke rumah sakit pemerintah yang tadinya saya pikir minus dalam pelayanan dan lain-lain. Justru saya kecelek !! Dari rumah sakit pemerintah ini saya dan ibu saya malah mendapat pelayanan yang baik. Tidak disangka kalau pendapat saya tentang rumah sakit pemerintah yang kotor, tidak terawat, antri yang lama, dan acuh tak acuh tidak terbukti. Padahal saat itu saya dan ibu saya datang tidak dengan ‘fasilitas’ yang seharusnya ibu saya bisa peroleh karena ayah saya yang duduk di ‘pemerintahan’. Kebetulan saya dan ibu tidak menyukai kesempatan aji mumpung. Justru tanpa fasilitas dari ayah saya, kami sudah mendapatkan pelayanan kelas satu.

Dari cerita di atas saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ketidak profesional-an pelayanan publik tidak saja terjadi di instansi pemerintah. Sampai sejauh mana sih standarisasi pelayanan publik yang bisa kita dapatkan ? apakah tidak ada standarisasi ? atau hanya sekedar lips service ? Bagaimana dengan perlindungan konsumen yang seharusnya kita peroleh ? bukan saja dari produk yang akan kita pakai, tapi setelah itu pun kita harus mendapatkan perlindungan. Ini adalah hak asasi kita sebagai manusia. Mungkin masyarakat kita sudah sedemikian acuh tak acuhnya dengan keadaan ini dan tidak lagi memperdulikan hak yang sudah seharusnya didapat. Mungkin juga UU Perlindungan Konsumen yang ada harus diperbaiki dan lebih disempurnakan. Ini tugas praktisi-praktisi hukum kita. Atau malah praktisi hukum yang ada sudah merasa nyaman sebagai ‘badan usaha bisnis’ yang lebih memikirkan duit ? entahlah, tapi tidak semuanya ya…

Keterkaitan antara manusia sebagai pelaku, hukum yang sudah ada dan pelaku usaha adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Terus apa hubungannya dengan pernyataan saya di atas ? Ya…saya mencoba untuk masuk ‘ranah politik’ sebagai pelayan publik dengan melamar menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah. Saya hanya ingin mencoba memberikan esensi dari arti politik yang sebenarnya yang pernah saya dapatkan dari bangku kuliah yang berarti KEJUJURAN.

GCP

19102006

ps.

Untuk Pak Santo, jangan patah semangat pak, masih ada kok pelayan publik yang memiliki hati nurani. Untuk mas satpam, saya terima maafmu…:p

Lagu Favorite

October 18th, 2006 by glencp

Prahara Cinta

by. Rako Prijanto

Pertama kali berjumpa dengan mu kekasihku

Dunia seolah kan runtuh

Makan pun tak enak

Tidur ku pun tiada nyenyak

Selalu teringat oh dirimu

Inikah oh namanya

Insan sedang jatuh cinta

Mengapa

Semua begitu indah dilihat

Begitu sedap dipandang

Seolah

Ku ingin slalu tersenyum

Tapi a ha aku malu

Padamu

Aku malu

Aku malu

Aku malu

Tiap kata kau ucapkan terasa indah saja

Selalu teringat dan tak lupa

Kau katakan kau sayang pada diriku kasihku

Masih banyak lagi rayuanmu

Inikah oh namanya

Insan sedang jatuh cinta

Mengapa

Semua begitu

Indah dilihat

Begitu sedap dipandang

Seolah

Ku ingin slalu tersenyum

Tapi a ha aku malu

Padamu…

GCP

Oktober 2006

ps.

Tuhan, jangan beri saya perasaan jatuh cinta, karena menurut saya perasaan itu bisa datang dengan sendirinya, tetapi tolong beri saya kekuatan untuk menjaga cinta, karena itu memang memerlukan usaha…

Favorite Song

October 17th, 2006 by glencp

Katakan Saja

By. Kahitna

Apa ku bilang suka

Engkau tersipu malu

Lalu aku bilang sayang

Wajahmu merah merona

Lalu harus bagaimana lagi dara

Cara untuk mendapatkan dirimu

Katakanlah saja bila kau benar cinta

Jangan kau ragu-ragu

Karna ku sungguh-sungguh

Katakanlah saja bila kau benar sayang

Jangan kau buat aku terlalu lama menunggumu

Apa ku bilang suka

Engkau tersipu malu

Lalu aku bilang sayang

Wajahmu merah merona

Lalu harus bagaimana lagi dara

Cara untuk mendapatkan dirimu

Katakanlah saja bila kau benar cinta

Jangan kau ragu-ragu

Karna ku sungguh-sungguh

Katakanlah saja bila kau benar sayang

Jangan kau buat aku terlalu lama menunggumu

Lalu harus bagaimana lagi dara

Cara untuk mendapatkan dirimu…

GCP

Oktober 2006

ps.

Untuk mengatakan cinta itu soal mudah, tapi apakah itu benar-benar cinta ?

I love this song…

Hidup BONEK !!!

September 11th, 2006 by glencp

Rotation_of_img_0124 Fenomena Bonekmania

(Pasca kerusuhan Stadion 10 Nopember Surabaya, September 2006)

Bonek ? Inikah bonek ?

Ketika masyarakat mendengar kalimat itu, beberapa ada yg bergidik, ada juga yang melengos kesal, malahan yang lainnya meso-meso (mengumpat).

Bonek lebih dikenal dengan Bondho Nekat (bawaannya nekat). Dulu pas jaman SMA saya bangga disebut sebagai bonek. Bukan karena bawaannya nekat (meski sekali saya pernah kabur dari jendela sekolah SMAN 2 untuk nonton final Persebaya vs Persija di Senayan tahun 1988 bersama teman-teman), tetapi karena sebutan itu melekat kepada setiap suporter Persebaya yang khas dengan warna hijau dan kekompakkan sesama orang Surabaya-nya dimanapun mereka berada. Kalau bertemu satu dengan yang lain, selalu mengawali dengan kata-kata “Jancuk…piye kabare rek” (apa kabarmu). Orang pasti mikir, menyalami orang lain kok diumpat sih ?  Tetapi itulah khas arek Suroboyo. Tidak ada sakit hati atau dendam diumpat seperti itu karena memang kata ‘Jancuk’ sudah melekat dalam diri orang Surabaya.

Bonek kali benar-benar sudah keterlaluan menurut saya. Meski semangat bonek tidak pernah luntur dari dalam diri saya, tetapi kejadian di Stadion 10 Nopember beberapa hari yang lalu sungguh membuat saya malu. Malu sebagai suporter Persebaya, tetapi lebih malu lagi sebagai orang Surabaya. Fanatisme yang berlebihan telah menyebabkan chaos di kota Surabaya hari itu. Suporter Persebaya yang notabene adalah penduduk kota Surabaya dengan brutalnya membakar stadion 10 Nopember Tambaksari yang dibangun dengan uang rakyat, selain itu juga menyebabkan Telkom dan ANTV merugi milyaran rupiah akibat mobil transmisi dan operasionalnya hancur di amuk bonekmania.

Kenapa ya bonek sekarang jadi lebih ganas dan brutal ? Apa penyebabnya ?

Yang pasti bukan karena Persebaya ditahan Arema 0-0 sehingga menyebabkan Persebaya gagal melaju ke babak semifinal Piala Copa. Menurut saya ada hal lain yang menyebabkan semangat bonek menjadi lebih agresif dan destruktif. Saat saya bekerja di ibukota, bonek juga menyebabkan kebencian yang mendalam di hati masyarakat Jakarta akibat kerusuhan dan kekacauan yang ditimbulkan pas bertanding di Gelora Bung Karno (Senayan), padahal Persebaya menang lho lawan Persija. Jadi itu bukan karena fanatisme semata, tapi lebih kepada luapan emosi dan kebanggaan tersendiri dari bonekmania untuk lebih ditakuti daripada disegani. Saya jadi malu ditanya berasal dari mana karena setiap menjawab berasal dari Surabaya, orang (teman-teman dari daerah lain) mengkonotasikan bahwa orang Surabaya itu brutal dan pemarah. Padahal saya endak tipe pemarah dan brutal kok. Buktinya mantan saya yang orang Jakarta sayang sama saya…hehehe…

Mungkin juga, kenakalan bonek akibat perilaku yang tak adil dari bapaknya sepak bola Endonesah (PSSI) selama ini. Ketidak adilan itu diantaranya, masih teringat jelas saat Persib Bandung mengundurkan diri ketika dijamu Persija di Lebak Bulus. Saat itu tak ada sanksi yang tegas bagi Persib maupun Persija yang tak bisa menjaga penontonnya meluber ke lapangan. Sebaliknya saat Persebaya mengundurkan diri di babak delapan besar Ligina kemarin karena alasan keamanan di Jakarta, Persebaya mendapat sanksi yang berat.

The Jackmania (suporter Persija) juga pernah membakar mobil saat kalah dari Persipura di partai final, namun sanksinya juga remeng-remeng sementara bila bonek berulah hukumannya langsung…. JELAS !!!

Belum lagi dosa-dosa PSSI yang tak becus dalam mengatur sepak bola. Contoh Arema Malang ketinggalan tiket di piala Champion Asia karena PSSI lupa, serta kasus dipilihnya stadion M. Sarengat Batang sebagai tempat partai penentuan PSIS vs Persiba. Partai final seperti itu kok tidak diantisisapi dengan hanya memilih stadion kacangan hingga membuat partai final terpaksa ditunda, belum lagi sistim persepakbolaan di Indonesia yang hampir tiap tahun pasti berubah.

Mungkin bonek berpikiran, lha ‘bapakku’ yo goblok, lha kok di panuti. Belum lagi dosa-dosa PSSI lainnya tentang mafia perwasitan di Indonesia. Fenomena fanatisme bonek menempatkan kelompok suporter ini menjadi yang paling radikal diantara suporter lainnya di indonesia mungkin, juga dunia. Bonek memang tak bisa dibandingkan dengan Aremania atau kelompok suporter lainnya. Karakteristik watak dan fanatismenya juga berbeda. Kalau mau jujur, bonek memang gila. Kegilaan bonek ini mungkin hanya ditandingi dengan hooligansnya Inggris yang juga suka ngesro. Tapi yah, inilah realitanya. Di dunia pasti ada yang nakal dan baik, penurut dan pembangkang, keras dan lembut, cengeng manja dan tegar…masih sifat manusia juga kok.

Saya kurang sependapat bila dalam permainan sepak bola provokasi pemain adalah hal yang biasa. Membiasakan pemain berprovokasi dalam suatu pertandingan sama halnya dengan kekerasan suporter bola seperti yang dilakukan bonek, juga merupakan hal yang biasa. Seharusnya PSSI juga harus memberlakukan aturan yang tegas terhadap masalah ini, contoh FIFA saat ini sangat membenci diving yang dilakukan pemain serta tindakan kiper yang suka mengulur-ulur waktu diatur tegas dalam aturan FIFA. Kartu bagi para pemain yang berprovokasi, namun di negara kita, wasitnya benar-benar sangat toleran, mungkin juga karena sifat orang Indonesia yang ramah dan suka bertoleransi ya…he..he..he

Tentang hukuman terbaru PSSI bagi Persebaya, 1 tahun tak boleh bertanding di Jatim dan 3 tahun tak boleh ditonton bonek, saya tidak yakin akan membuat perubahan berarti bagi bonek dan persepakbolaan di Surabaya. Sebaliknya saya memprediksi sakit hati dan kekesalan bonek terhadap PSSI semakin mengakumulasi, yang artinya kerusuhan yang lebih besar seperti api dalam sekam. Generasi bonek jumlahnya ribuan, mati satu tumbuh seribu. Kita liat aja di televisi, bonek yang ngesro ternyata masih kecil-kecil, seumuran anak-anak sekolah dasar. Katakanlah Persebaya dibubarkan, pun bonek-bonek ini seperti benalu yang bisa hinggap di klub manapun, bisa itu di Deltras Sidoarjo, Persekabpas Pasuruan atau klub lainnya yang mempunyai fanatisme sejalan.

Bagaimana mengatasi bonek ?

Sulit memang jawabannya. Tapi begini, saya mau mengatakan bahwa diakui atau tidak pihak keamanan kemarin benar-benar tidak mengantisipasi dengan baik. Saya bukan polisi, tapi saya sudah memprediksi Persebaya vs Arema kemarin bakalan rame tapi kok hanya disiapkan 700 personil, ini sangat riskan !!!  Mungkin Kapolwiltabes Kombes Anang Iskandar tidak menduga dengan reaksi bonek. Kalo dia belajar dari kapolwil sebelumnya, pertandingan besar di Surabaya minimal dijaga 2500 personil.

Satu lagi yang hingga saat ini menjadi beban pikiran saya. Kenapa ya pihak keamanan kita kok nggak sama seperti di piala dunia, itu lho tehnik penjagaannya, standar pengamanan dunia. Pihak keamanan wajib menghadap penonton untuk mengetahui tindakan yang dilakukan penonton. Lha kalo disini kebalik. Polisi bareng bonek podo ngadep nang lapangan nontok bal-balan ambek nyedot rokok mangan kacang goreng bareng (polisi bersama bonek sama-sama menghadap ke lapangan nonton bola dengan menyedot rokok dan makan kacang goreng). Nah akibatnya lek pas kesro podo bingung kabeh (pas ribut pada bingung semuanya)…he..he. .he.

Menurut pendapat rekan jurnalis saya di Surabaya bahwa bonek adalah katarsis dari segala keresahan sosial di Surabaya menurut saya memang benar. Bonek adalah kumpulan massa yang selama ini di cap kampungan, ndeso, brutal, memalukan dan seribu penilaian negatif lainnya. Namun percayalah, bagi mereka penilaian tersebut tidak terlalu penting bahkan mungkin sebaliknya akan menjadi kebanggaan tersendiri sebagai lambang perlawanan terhadap kaum elit dan mapan yang justru membencinya.

Tak ada maksud dan belum ada solusi untuk bonek dalam tulisan ini, tapi paling tidak masalah yang diceritakan dari seorang teman yang mantan bonekmania, bisa saya bagi kepada yang lain, walau bukan untuk sebuah pembenaran.

*to my fellowship, all Surabaya’s citizen

Many thanks to Edgor Pras (Global TV) and Jojo

GCP

11092006

VJ or SoJo ?

September 11th, 2006 by glencp

Video Journalist dan Solo JournalistShouldershot

Empat tahun belakangan ini dunia pertelevisian kita dengan intens menerapkan konsep VJ (Video Journalist) dalam peliputannya.

Konsep ini sempat menuai kritik karena membebani pekerjaan dua jurnalis (reporter dan juru kamera) hanya pada satu orang, sehingga muncul kekhawatiran peliputan yang tidak utuh (karena lelah, keterbatasan waktu, tenaga). Tapi di sisi lain, konsep ini memungkinkan eksekusi ide dilakukan dengan lebih cepat dan presisi karena datang dari satu kepala yang sama. Dari sisi bisnis, perusahaan-perusahaan media diuntungkan karena cukup menggaji satu orang untuk memperoleh hasil kerja dua orang. Tapi pengalaman kita menunjukkan butuh orang yang tangguh (secara fisik dan mental) untuk bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan standar kualitas yang baik.

Kini muncul konsep yang lebih progresif lagi yaitu SoJo (Solo Journalist).
Sebagaimana tercermin pada namanya, konsep ini bertumpu pada seorang jurnalis yang melakukan semua pekerjaan liputan sendiri dan
memproduksinya dengan mengedit dalam beragam keluaran (output) yaitu video, audio, teks, foto. Butuh ketrampilan tersendiri untuk membuat produk yang beraneka ragam ini karena tiap media keluaran memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri.

Mungkinkah konsep ini diterapkan di Indonesia?

Kalau melihat kecenderungan bisnis media untuk saling berintegrasi, cepat atau lambat kita akan mengarah ke sini. Grup MNC kini memiliki tiga
televisi (RCTI, TPI, GlobalTV), radio (Trijaya) dan koran (Seputar
Indonesia). Beredar kabar bahwa SCTV akan berkongsi dengan Indosiar,
Rupert Murdoch membeli ANTV dan (kabarnya) Lativi, juga TransTV yang telah bersinergi dengan TV7. Integrasi media tampaknya akan menjadi model bisnis yang tak terhindarkan di Indonesia.

Saat ini terjadi, SoJo menjadi pilihan yang efisien secara ekonomis.
Tapi bagaimana kita menjaga kualitas produksinya (baik isi maupun
kemasannya?). Sekarang saja dengan satu tim (dua orang) dan hanya
memproduksi untuk satu media keluaran (televisi), kita masih sering
kedodoran (tidak akurat, tidak menyeluruh dll; gambar jelek, audio
berantakan).

Dalam pengalaman peliputan pertama kali dengan konsep VJ, beberapa rekan saya ‘mengkritik’ dengan alasan konsep ini ‘makan asap dapur orang’ alias potensial mengambil alih pekerjaan kru lainnya. Tetapi saya berdalih dengan mengatakan bahwa konsep ini ‘memutus jaringan lingkaran setan’ yang memakan waktu lama, seperti tidak adanya kamera person yang available, lamanya waktu editor dalam menyuting gambar dan audio, belum lagi keterbatasan waktu dalam penyetoran sebuah berita yang selalu membutuhkan kecepatan dalam mengejar deadline. Apalagi sebagai seorang News Manager, deadline adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar dalam penyajian berita yang bersifat eksklusif. Konsep ini pun dapat membantu seorang reporter untuk mengambil gambar yang diinginkan sekaligus mengeditnya, membuat skrip berita yang dibuatnya sendiri, dan menyajikan kepada pemirsa secara aktual. Tidak benar bahwa konsep ini membuat para kamera person dan editor menjadi ‘pengangguran’, tetapi justru membuat pekerjaan mereka menjadi lebih fokus dan tidak seperti mengejar maling (istilah saya kalo lagi mencari ‘jatah’ kamera person dan time schedule editor yang ada).

Pengalaman bekerja sebagai jurnalis asing mengajarkan kepada saya bahwa konsep ini tidak memerlukan sebuah kantor yang besar dengan banyak orang. Cukup dengan peralatan kamera profesional, ditambah tripod (monopod juga menjadi pilihan karena bebannya tidak terlalu berat yang bisa memperlambat mobilitas), wireless microphone, dan laptop dengan spesifikasi software untuk mengedit, yang dikemas dalam sebuah backpack yang bisa dibawa kemana-mana sehingga seorang VJ atau SoJo dapat pergi kemana saja dalam waktu yang singkat untuk meliput sebuah berita. Alasan kepala biro saya juga cukup sederhana, bahwa dia dapat menghemat waktu dan biaya dalam satu kesempatan (apa karena dia kompeni ya…whuups!!)

Beberapa teman jurnalis saya dari SCTV, RCTI, TV7, Trans dan ANTV sudah mengaplikasikan konsep ini dan mereka justru yang masih bertahan dari maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), dan perampingan sebuah departemen akibat terlalu banyaknya kru. Belum lagi keluhan seorang kamera person dan editor yang merasa tidak punya cukup waktu dalam membuat sebuah tayangan yang layak tayang (standar broadcast).

Ada fenomena unik yang saya temukan selama berinteraksi di dunia broadcast ini. Dari 10 orang yang saya temui, 8 di antara mereka ternyata belum berumah tangga atau sudah ‘berpisah’ dari keluarganya (cerai). Mungkin tidak ada hubungannya dengan konsep ini, tetapi alasan yang dikemukakan rata-rata mengatakan bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk ‘bersosialisasi’ (pacaran, mencari jodoh, memikirkan untuk menikah). Sedangkan yang berpisah memberi alasan karena pasangan mereka tidak dapat mentoleransi waktu yang disediakan bagi keluarga yang lebih sedikit dibandingkan dengan waktu mereka bekerja. Memang tidak semua sih, tetapi hal itu mungkin…sekali lagi mungkin, adalah ekses dari tipe pekerja 3 in 1 ini.

Di dalam menghadapi kemajuan dunia broadcasting yang begitu cepat, kita sebagai pekerja (jurnalis) tentunya tidak ingin ketinggalan dalam mengikuti perkembangan demi menghadapi persaingan dan juga sebagai pertanggungjawaban kita kepada masyarakat di dalam memberikan sebuah tayangan yang laik tayang dan yang memenuhi kriteria standar broadcast tentunya.

*untuk teman-teman VJ angkatan 2 Pelatihan Jurnalis Televisi (PJTV) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Depok Tahun 2004

GCP

10092006

Beta Pattiradjawane

August 31st, 2006 by glencp

Beta Pattiradjawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.

Beta Pattiradjawane

Kikisan laut

Berdarah laut.

Beta Pattiradjawane

Ketika lahir dibawakan

Datu dayung sampan.

Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala.

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari

Menurut beta punya tifa,

Pohon pala, badan perawan jadi

Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!

mari beria!

mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah

Beta bikin pala mati, gadis kaku

beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang

Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattiradjawane

Yang dijaga datu-datu

Cuman satu.

 

Cerita Buat Dien Tamaela

Chairil Anwar

1946

PS:

Happy Birthday Papa Willem Gerardus Pattiradjawane (0409). You are my great-great Dad !!! I love you so so much. GOD bless you always with Mom forever and ever.

GCP 082006

To ‘You’

August 31st, 2006 by glencp

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun…

Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia…

[ Kahlil Gibran ]